OJK Sulteng Imbau Civitas Akademik UIN Palu Waspada Pinjol Ilegal

OJK Sulteng Imbau Civitas Akademik UIN Palu Waspada Pinjol Ilegal

Palu, Alnews – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Perwakilan Sulawesi Tengah mengimbau agar seluruh komponen civitas akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, agar tidak mengajukan pinjaman dana melalui aplikasi Pinjaman Online (Daring) illegal.

Hal ini disampaikan Kepala OJK Sulteng, Gamal Abdul Kahar dalam acara OJK Goes to Campus, di ruang auditorium UIN Palu, Selasa 19 Oktober 2021.

Gamal mengungkapkan, salah satu bahaya mengajukan pinjaman dana melalui aplikasi daring illegal adalah potensi penyalahgunaan data pribadi nasabah oleh pihak penyedia jasa.

“Jasa-jasa pinjaman uang dengan sistem online ilegal, tidak sesuai dengan ketentuan OJK, sekaligus menjadi salah satu upaya literasi OJK untuk memproteksi sejak dini para mahasiswa agar tidak terjebak dengan pinjol ilegal,” tegas Gamal.

Untuk itu, Gamal berharap, agar Civitas akademik UIN Palu utamanya mahasiswa untuk berhati-hati dalam menggunakan handphone miliknya. Sebab jika telah terjebak dalam pinjol, sangat berpotensi menjadi korban perundungan, persekusi maupun doxing sebab pihak penyedia aplikasi pinjol illegal telah menyedot data pribadi nasabah.

Gamal juga mengungkapkan, bahwa masyarakat Sulawesi Tengah menjadi salah satu target penyedia jasa pinjaman online ilegal. Gamal juga mengakui, jika OJK mengalami kesulitan untuk mengungkap kasus penipuan Pinjol. Sebab umumnya korban tidak melaporkan apa yang dialami.

“Sayang sekali kita juga tidak bisa memastikan angka pastinya ini berapa, hanya saja memang Sulteng ini salah satunya, dan para korban tidak mau melapor karena mungkin malu, padahal OJK memastikan bagi siapa saja yang melaporkan perkara semacam itu identitas maupun alamatnya kita pastikan akan aman,” ujar Gamal.

Gamal menyebutkan, hingga saat ini OJK beserta Satuan Tugas (Satgas) Waspada Investasi dan Kominfo telah memblokir 3.193 situs Pinjaman Online Ilegal.

“Karena itu Anda semua harus waspada dan hati-hati, bayangkan saja, misalkan pinjaman Rp1 juta, namun harus dikembalikan dengan bunganya perhari 0,8 persen selama tiga bulan berturut-turut, terlambat sedikit saja bisa diakses semua kontak yang ada di handphone kita lalu disebarkan,” ungkapnya.

Menurutnya, saat ini dalam industri jasa keuangan, keluhan masyarakat tidak hanya berasal dari financial technology (Fintech) ilegal saja, tetapi oleh fintech resmi, meskipun pengaduan itu tidak sampai pada upaya persekusi ataupun merugikan.

Untuk itu, OJK Sulteng menyarankan jika masyarakat terpaksa harus melakukan pinjaman online, agar lebih dulu memeriksa daftar perusahaan yang sudah memiliki ijin dan di bawah pengawasan OJK di website resmi milik Otoritas Jasa Keuangan. (red/**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here