Ironi Daerah Penghasil Nikel, Menui Kepulauan Gelap Gulita.

Menui Kepulauan, kecamatan paling selatan Sulawesi Tengah ternyata menyimpan masalah kelistrikan yang telah berhitung bulan.

Warga di daerah ini sudah lama tidak mendapat pelayanan listrik yang memadai akibat tidak berfungsinya PLTD di sana.

Redaksi alnews.id memuat keluhan curahan hati seorang warga yang pagi ini beredar luas di grup medsos sebagai berikut:

Assalamualaikum. Wr.wb

Pertama-tama dengan memohon Rahmat dan petunjuk dari Tuhan Yang Masa Kuasa, kami masyarakat Menui Kepulauan meminta kepada semua pihak terkait agar kiranya dapat meluangkan sedikit waktunya untuk memikirkan kondisi masyarakat perihal tidak berfungsinya PLTD PLN Menui Kepulauan.

Sudah empat bulan lamanya mengalami pemadaman listrik bergilir di Kampung kami tercinta, menandai sudah empat bulan masyarakat memendam kesabaran. Dan beberapa hari ini terjadi pemadaman total ditengarai adanya kerusakan mesin. Sampai sekarang kami belum melihat tanda-tanda adanya listrik akan menyala.

Kemarin, sempat beredar rumor ditengah masyarakat, kapal pengangkut BBM PLN yang bertolak dari pelabuhan Bungku telah memuat mesin dan dinamo. Ternyata sesampainya kapal di Menui PLN belum juga menyala. Sehingga masyarakat merasa sedang di Prank.

Sebuah ironi Daerah penghasil tambang nikel dan pemilik smelter terbesar ternyata menyimpan sebuah problem yang berimbas pada sendi-sendi kehidupan di Kecamatan Menui Kepulauan.

Bapak Ibu yang hari ini sedang duduk manis di ruangan ber-AC menikmati seduhan teh panas adakah kalian sedikit saja memikirkan keadaan kampung kami yang gelap gulita. Bapak Ibu tahu tidak betapa susahnya kami, betapa risaunya kami saat siang berganti malam, kegelapan menyapa kampung kami. Tanpa aliran listrik sedikitpun, jangankan untuk sekedar mengeraskan es batu di dalam pendingin, menyetrika pakaian dan menarik air pun sebagai kebutuhan utama masyarakat sudah tidak bisa sama sekali.

Efek dari mati total nya PLN selama beberapa hari ini, banyak menyimpan cerita tentunya bukan sebuah cerita untuk dijadikan kenangan manis melainkan cerita penderitaan masyarakat ditengah indahnya kemolekan kota Bungku dan kemegahan bangunan smelter tambang di Morowali.

Kami butuh listrik

Tahukah bapak ibu jika sumber ekonomi kami saat ini sangat berpengaruh dengan tidak adanya listrik. Coba bayangkan ditengah hantaman ombak dan badai di musim timur seperti ini kami berjuang mengais rezeki demi sesuap nasi, ikan hasil tangkapan yang susah payah kami cari harus berahir tragis membusuk dan berulat. šŸ˜­Begitu juga ibu-ibu pelaku usaha rumahan betapa repotnya mereka menghadapi gelapnya malam tanpa pencahayaan yang layak saat membuat adonan lalu kemudian adonannya tumpah memenuhi lantai, atau saat mengiris bawang tanpa ia sadari tangannya sudah meleleh darahh segar.

Tidak adakah sedikit perasaan iba di hati bapak ibu? Tolong tundukan kepala sejenak lalu bayangkan jika itu terjadi pada bapak ibu. Jujur air mata kami tidak begitu nampak tumpah ruah meleleh di pipi kami, namun perlu kalian ketahui hati kami menyimpan kesedihan teramat dalam bak teriris belati tajam. Lalu pada siapakah kami mengadu?

Bapak ibu yang kami hormati apakah karena jarak kampung kami jauh dari kabupaten sehingga listrik kami tidak diperhatikan atau kami hanya dijadikan pelengkap untuk mencukupi jumlah kecamatan yang ada di Morowali? Memang kami akui bahwa Menui hanya sebuah pulau nun jauh dan terluar di wilayah Provinsi Sulawesi Tengah kabupaten Morowali. Sebuah pulau kecil yang terdiri dari belasan Desa didalamnya didiami penduduk serumpun namun kami juga berharap merasakan adanya penerangan seperti kecamatan lainnya tanpa dipandang sebelah mata. Jangan biarkan pikiran kami menerawang jauh merasa sebagai anak tiri yang kehilangan induknya. Menui Kepulauan, 20 Juli 2022.

Edi Laris

Masyarakat Menui Kepulauan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here